Press "Enter" to skip to content

Kontribusi Pemuda Indonesia di Bidang Pertanian dalam Menghadapi Gelombang Krisis Akibat Pandemi Covid-19

Oleh: Andi M. Yusuf
Pelajar Kelas XI IPS 1 PA SMA Negeri 7 Luwu Timur

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan COVID-19 sebagai nama virus yang tengah melanda kita, yang mana “c” artinya Corona, “vi” adalah virus, “d” adalah disease atau penyakit, sedangkan 19 artinya tahun ditemukannya virus tersebut di China, tepatnya di kota Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019.

Corona virus atau SARS-CoV2 adalah sebuah virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Virus Corona atau  COVID-19 dapat menular dengan cepat kepada orang-orang di sekitarnya apabila orang tersebut bersin, berjabat tangan, batuk dan lain-lain.

Oleh karena itu WHO menganjurkan untuk melakukan Social Distance dan Physical Distance untuk memutus rantai Virus Corona.  Beberapa gejala yang  akan timbul ketika seseorang terjangkit oleh wabah virus ini, di antaranya :

  1. Batuk dan bersin
  2. Demam Tinggi
  3. Sakit Tenggerokan
  4. Sesak nafas

Organisasi kesehatan Dunia (WHO), mengatakan COVID-19 menyerang manusia yang memiliki ketahanan tubuh yang rendah serta imunitas tubuh yang melemah. Sehingga hal tersebut sangat beresiko bagi mereka yang telah lanjut usia apabila terjangkit virus Coron mengingat ketahanan tubuh mereka yang sudah melemah.

Namun apakah anak muda atau anak-anak beresiko terjangkit virus Corona? Perlu kita ketahui, mereka sangatlah mudah terjangkit  wabah  Virus  Corona  atau  COVID-19,  namun  kematiannya  sangat  rendah ketimbang orang-orang yang telah lanjut usia.

Organisasi kesehatan Dunia atau WHO menghimbau bagi setiap orang untuk meningkatkan imunitas dan ketahanan tubuh untuk menangkis COVID-19 menginfeksi kita, salah satunya Mengonsumsi makanan yang mengandung Protein/Vitamin, dan melakukan aktivitas kebugaran jasmani atau berolahraga.

Indonesia saat ini telah di hantui oleh wabah Virus Corona atau COVID-19,  yang mana menurut data yang setiap saat disampaikan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Dr Achamd Yurianto. Kasus masyarakat yang terjangkit wabah Virus Corona, atau COVID-19 telah mencapai ribuan masyarakat Indonesia, dan telah memakan ratusan korban jiwa akibat dari pandemi yang telah melanda kita semua.

Kasus seperti ini diyakini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu sampai benar-benar di temukannya Vaksin yang bisa menangkalnya, dan mengendalikan wabah virus tersebut.

Virus Corona atau COVID-19 di yakini akan mengubah landskap dunia secara radikal. Krisis Ekonomi akan menyergab seluruh negara yang ada di dunia termasuk juga indonesia. Lock donw yang diterapkan oleh pemerintah menjadi salah satu faktor roda Industri ikut terhenti.

Kelangkaan pangan akan segera muncul dimana-mana lantaran karantina wilayah membuat aktivitas pertanian seluruh negara pensuplai pangan termasuk Indonesia terjedah. Demikian pula dengan aspek sosial dan politik, semua terkena imbasnya.

BACA:  Optimalisasi SPI dalam Mencegah Penularan Covid-19 di Tanah Luwu Raya

Pemerintah Republik Indonesia saat ini tengah melakukan pencegahan bagaimana cara mengatasi kelangkaan pangan,  dan  cara  memutus rantai  penyebaran  COVID-19, salah satunya adalah di terapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di setiap Provinsi yang ada di Indonesia termasuk Sulawesi Selatan.

Namun di luar ekspektasi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini menuai banyak sekali Pro dan Kontra antara masyarakat kelas bawah dan menengah atas.

Di satu sisi masyarakat tidak menyetujuinya karena hal itu membuat ladang tempat masyarakat dalam mencari nafkah bagi keluarga mereka tertunda, dan di sisi lain beberapa yang setuju akan kebijakan tersebut karena hal itu bisa mencegah dan memutus rantai penyebaran Virus Corona atau COVID-19 masuk ke dalam tubuh kita dan orang lain.

Peran Serta Pemuda di Tana Luwu

Sebagai seorang pemuda dari Tana Luwu, Sulawesi Selatan, apa yang semestinya harus di lakukan dalam menanggulangi bencana krisis pangan yang tengah melanda kita sekarang? Mungkin pertanyaan tersebut membayang di pikiran entah ingin melakukan apa.

Di samping pemerintah menyuruh untuk tetap Stay At Home agar dapat mencegah penyebaran Virus Corona atau COVID-19 menginfeksi kita, sedang di sisi lain jika hanya terus berdiam diri dan mengharap janji pemerintah yang belum pasti  tanpa melakukan sebuah gebrakan di tengah krisis ekonomi dan pangan, sangat beresiko kita akan mati kelaparan.

Perlu kita ketahui pangan adalah segalah sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah. Di tengah pandemi COVID-19, sektor pangan menjadi salah satu jantung bagi masyarakat indonesia dalam menghadapi situasi buruk yang tengah melanda masyarkat indonesia saat ini.

Namun akhir-akhir ini sektor pangan menjadi langka sebab, karantina wilayah yang membuat aktivitas Pertanian seluruh Negara pensuplai pangan termasuk Indonesia terjedah. Kebijakan Stay At Home yang dikeluarkan pemerintah, bukan berarti menganjurkan untuk tinggal diam di rumah rebahan.

Sebagai seorang pemuda milineal kita dianjurkan untuk memanfaatkan Stay At Home ini menjadi tempat untuk melatih diri sebagai orang yang produktif dalam memanfaatkan dan meminimalisir kelangkaan pangan yang melanda saat ini.

Salah salah satu cara untuk mengatasi kelangkaan pangan dan ekonomi krisis yang saat ini melanda saat ini adalah dengan memanfaatkan atau mengolah di sekeliling halaman rumah kita menjadi sektor pertanian dengan cara membudidayakan tanaman pangan jangka pendek seperti tanaman kangkung, wortel, mentimun, selada, bayam dan sebagainya.

BACA:  Dari Pemuda dan Oleh Pemuda, Untuk Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Beberapa jenis sayuran tersebut selain kaya akan kandungan nutrisi di dalamnya, pertumbuhannyapun sangatlah cepat sehingga dalam  membudidayakannya  tidak  memakan  jangka waktu berbulan-bulan ketika akan dipanen.

Memanfaatkan lahan pekarangan rumah menjadi tempat ladang pertanian bagi tanaman pangan jangka pendek, adalah sesuatu yang baik dan mempunyai banyak sekali manfaat. Di satu sisi kita telah membantu pemerintah dalam mengatasi  penyebaran  COVID-19 dengan cara tetap tinggal di rumah sembari produktif, disisi lain hal tersebut mampu meminimalisir kelangkaan pangan.

Di tambah lagi situasi sekarang ini curah hujan pada bulan April hingga Mei ke depan sangat mendukung dalam bercocok  tanam. Oleh karena itu sebelum datangnya musim kemarau mulai sekarang kita lakukan aktivitas bercocok tanam, sehingga dalam waktu beberapa minggu kedepan kita telah bisa menghasilkan tanaman-tanaman sayur jangka pendek yang kaya akan Protein dan Vitamin di dalamnya.

Selain itu, kitapun bisa menjadi orang yang produktif di tengah pandemi COVID-19 yang melanda kita, dan pada akhirnya Stay At Home yang kita lakukan mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi bangsa negara ini, dan sekaligus kita mampu menghambat atau meminimalisir kelangkaan pangan dan krisis ekonomi yang tengah melanda kita.

Lantas bagaimana cara untuk menanam tanaman pangan yang baik dan benar sehingga pertumbuhannya cepat ?  Dalam hal ini beberapa metode yang bisa kita gunakan dalam meambudidayakan tanaman pangan baik itu di pedesaan maupun di perkotaan, diantaranya:

Budidaya Tanaman Pangan di Kawasan Perkotaan

(1) Pemanfaatan Metode Hidroponik

Karena di perkotaan sebagian besar rumah penduduk saling berdempetan sehingga lahan yang ingin di gunakan untuk bercocok tanam sangatlah minim. Ditambah lagi tanah yang ada di perkotaan sebagiantelah tercemar dan besar sudah tidak subur lagi karena banyaknya aktivitas pembakaran lahan dan penebangan pohon.

Oleh karena itu metode yang cocok di lakuan untuk membudidayakan tanaman pangan di area dalam rumah, khususnya daerah perkotaan adalah dengan menggunakan metode hidroponik.

Material tanah diganti dengan material lainnya seperti pipa atau talang, dan pompa, yang mana pipa tersebut nantinya akan dilubangi sesuai dengan panjangnya dan pompa air yang berfungsi untuk mengalirkan aliran airnya.

Cara satu ini konsep dasarnya yaitu menanam akar tanamannya agar tumbuh dan menjaga sirkulasi agar tanaman tetap mendapatkan nutrisis, oksigen, dan air.

(2) Pemanfaatan Roof Garden

Metode Roof Garden mempunyai banyak sekali manfaat untuk membudidayakan tanaman. Selain cocok di manfaatkan sebagai tempat  bercocok tanam dilahan yang sempit, metode Roof Garden mempunyai banyak kelebihan diantaranya menyejukkan ruangan di dalam rumah, sebagai pelindung bangunan, lapisan penahan air, membuat udara menjadi sejuk dan masih banyak lagi manfaat yang dimiliki. Sehingga di situasi pandemi COVID-19, kita bisa terjaga dari aktivitas di luar rumah yang sangat beresiko tinggi.

BACA:  Optimalisasi SPI dalam Mencegah Penularan Covid-19 di Tanah Luwu Raya

Budidaya Tanaman Pangan di Kawasan Pedesaan

Di kawasan pedesaan, banyak hal bisa digunakan dalam membudidayakan tanaman pangan jangka pendek diantaranya memanfaatkan lahan di sekitar halaman rumah menjadi sarana aktivitas bercocok tanam, mengingat tanah yang berada di kawasan pedesaan jauh lebih subur dan luas ketimbang yang ada di perkotaan, sehingga sangat cocok untuk dibuatkan Bedeng- bedengan.

Namun Pada saat proses penanaman hal yang perlu kita perhatika ialah jarak pada saat penanaman. Jarak tanam yang tidak tepat mengakibatkan turunnya hasil produksi suatu tanaman yang dikarenakan oleh sesama tanaman saling berkompetisi untuk mendapatkan unsure hara, berkompetisi untuk mendapatkan cahaya matahari, berkompetisi untuk berkembang, dan berkompetisi untuk mendapatkan air dan mineral.

Akhirnya proses penanaman tanaman pangan untuk meminimalisir kelangkaan pangan dan Krisis Ekonomi telah selesai. Di tengah Lock Down yang di terapkan kita tidak perlu lagi untuk keluar membeli kebutuhan seperti sayur karena telah membudidayakan sebelumnya, sehingga kita tetap dalam keadaan sehat dan aman dari bahaya COVID-19 yang mengintai dimana-mana.

Kesimpulan

Ada banyak peran pemuda Indonesia di tengah kondisi COVID-19 yang menyerang kita, salah satunya ialah menghambat atau meminimalisir kelangkaan pangan dan  ekonomi. Dengan membudidayakan pangan, kita mampu menghidupi diri kita dan keluarga, bahkan orang lain sekalipun di tengah Pandemi COVID-19 yang belum kita ketahui kapan berakhirnya.

Satu hal perlu kita ketahui, jangan lupa untuk menerapkan pola hidup hemat di tengah pandemi COVID-19 agar kita mampu bertahan  hidup dalam kondisis seperti ini. Sehingga kedepannya kita pun tidak terlalu mengharapkan lagi bantuan dari pemerintah yang tidak menentu.

Dengan semua ini, kita juga telah berkontribusi kepada negara ini dan bahkan seluruh negara di dunia ini untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 dengan cara melakukan hal-hal yang produktif di rumah, sekaligus meminimalisir kelangkaan pangan dan krisis ekonomi yang melanda kita semua di tengah pandemi COVID-19.

**Artikel ini meraih Juara 2 pada Lomba Penulisan Esai se-Luwu Raya yang diselenggarakan oleh Pengurus Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya Universitas Negeri Makassar (IPMIL RAYA UNM). Follow Instagram IPMIL RAYA UNM di @ipmilraya_unm