Energi Pemuda dalam Pandemi COVID-19 di Kabupaten Luwu Timur

waktu baca 10 menit
Senin, 29 Jun 2020 08:42 0 0 View Tim Redaksi

Oleh: Muhammad Arijal
(Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia Makassar)

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Essay Lawan Covid-19, kerjasama Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Timur (PP IPMALUTIM) dengan The Sawerigading Institue (TSI) dan MaliliPos.com

Penyebaran virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab pandemi Covid-19 menjadi kegelisahan dan kekhawatiran banyak kalangan, termasuk Indonesia, Meski pemerintah sudah mengambil berbagai langkah strategis, tapi peran kaum muda untuk aktif memastikan advokasi kesehatan masyarakat disebut penting.

Kaum muda menjadi kelompok masyarakat sipil yang memiliki jangkauan luas dan sumber daya potensial untuk mendorong kebijakan yang efektif dalam memastikan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di kabupaten LUWU TIMUR.

Kabupaten Luwu Timur merupakan Kabupaten paling timur di Provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah Utara, Sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone, Sementara itu, batas sebelah Barat merupakan Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.944,98 km2dengan jumlah penduduk tahun 2019, berjumlah 243.064 jiwa. Kabupaten ini terdiri atas 11 Kecamatan yakni Kecamatan Malili, kecamatan Angkona, Tomoni, Tomoni Timur, Kalena, Towuti, Nuha, Wasponda, Wotu, Burau dan Mangkutana.

Dampak pandemic covid 19 di luwu timur sangat ,mengubah tatanan kehidupan termaksud,ekonomi,kesehatan masyarakat,social,Pendidikan.

ASPEK EKONOMI

Ekonomi masyarakat luwu timur mengalami penurunan, masyarakat di harapakan bekerja dari rumah,belum lagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan (PHK), berdasarkan data badan pusat statistic LUTIM (BPS) Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Luwu Timur Maret 2019 sebesar 20,83 ribu jiwa atau 6,98 persen dari total penduduk.

Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,25 poin persen atau sebesar 0,32 ribu jiwa jika dibandingkan kondisi Maret 2018 dengan persentase kemiskinan pada tahun tersebut sebesar 7,23 persen. Jika dibandingkan selama enam tahun terakhir, 2014 – 2019, jumlah penduduk miskin jumlahnya berfluktuasi antar tahun.

Pada tahun 2014, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Luwu Timur sekitar 20,78 ribu jiwa. Pada tahun 2015 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan menjadi 19,67 ribu jiwa, kemudian pada dua tahun berikutnya terus meningkat menjadi 21,08 ribu jiwa di tahun 2016 dan 21,94 ribu jiwa di tahun 2017.

Pada tahun 2018 angka kemiskinan menurun menjadi 21,15 ribu jiwa dan kembali menurun pada tahun 2019 menjadi 20,83 ribu jiwa pada tahun 2019. Hal yang sama juga dapat dilihat pada persentase penduduk miskin Kabupaten Luwu Timur yang juga bervariasi selama enam tahun terakhir.

Pada tahun 2014 persentase penduduk miskin di Kabupaten Luwu Timur sebesar 7,67 persen, kemudian turun menjadi 7,18 persen pada tahun 2015.

Pada tahun 2016 persentase kemiskinan Kabupaten Luwu Timur kembali meningkat menjadi 7,52 persen dan terus mengalami peningkatan menjadi 7,66 persen pada tahun 2017. Namun, pada tahun 2018, persentase penduduk miskin kembali menurun menjadi 7,23 persen dan kembali menurun pada tahun 2019 menjadi 6,98 persen.

ASPEK KESEHATAN

Pandemi ini membuat banyak orang merasa bingung, cemas, stres, dan frustasi. Sejumlah orang khawatir sakit atau tertular Covid-19. Di sisi lain mereka juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemic, Bagi sebagian orang, rasa stres dan cemas menghadapi pandemi corona bisa sampai mengganggu kesehatan mental.

Terlebih jika sebelumnya seseorang memiliki riwayat gangguan kecemasan, depresi, serangan panik, atau gangguan obsesif, Biang stres secara alamiah memicu respons tubuh untuk bereaksi menghadapi ancaman. Ketika menghadapi potensi bahaya, sistem saraf simpatik otomatis berada dalam mode mempertahankan diri.

Hal itu dikontrol bagian otak yang mengendalikan emosi bernama amigdala. Saat stres, amigdala mengirimkan “sinyal marabahaya” ke kelenjar hipotalamus di dasar otak. Hipotalamus lantas memberikan kode pada kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres kortisol dan adrenalin.

Begitu hormon tersebut terlepas, otot di dalam tubuh otomatis jadi tegang. Ketegangan otot itu berfungsi melindungi diri dari cedera. Jantung pun jadi berdetak lebih kencang untuk memompa lebih banyak darah ke otot dan meningkatkan asupan oksigen. Inilah yang memicu napas jadi cepat atau sesak dan jantung berdebar-debar saat seseorang mengalami stres. Dalam kondisi “terancam”, tubuh juga lebih banyak berbahaya.

ASPEK SOSIAL BUDAYA

Selain itu, dampak pengaruh virus corona (Covid-19) dalam kehidupan sosial masyarakat,  di antaranya adalah timbulnya rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di seputaran kita atau yang baru kita kenal.

Sebagai contoh pada saat kita membeli makanan, baik di warung yang berlabel maupun kaki lima kita pasti akan mencari tahu apakah bersih atau tidak.  Apakah pelayan ada bersentuhan dengan orang yang terjangkit virus atau tidak, adakah petugas atau pelayan yang mencuci tangan pada saat mengolah atau memproses makanan yang kita pesan atau tidak, sehingga timbul keraguan.

Pada saat kita berbicang atau berjumpa baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan rumah dan dengan masyarakat setempat kita pun enggan berjabat tangan, meskipun mereka adalah orang tua, sebagaimana yang kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk selalu menghormati yang lebih tua.

Namun, situasi saat ini mengharuskan kita untuk menghindari berjabat tangan dan harus menjaga jarak ± 2 meter bila ingin berbicara dengan orang lain, apalagi orang yang tidak kita kenal.

ASPEK PENDIDIKAN

Imbas dari munculnya virus ini adalah bidang pendidikan. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan mengambil langkah di setiap sekolah dan universitas untuk melakukan pembelajaran melalui internet. Sebulan yang lalu, sebagian besar sekolah-sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di Indonesia telah menutup sistem PBM (Proses Belajar Mengajar) yang dilakukan seperti biasanya menjadi sistem pembelajaran daring.

Pembelajaran online ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan proses menghentikan penyebaran virus melalui interaksi langsung di antara orang banyak. Peralihan proses pembelajaran yang dulunya melalui tatap muka menjadi online tentunya memaksa berbagai pihak untuk dapat mengikuti proses dan alurnya, supaya sistem pembelajaran tetap berjalan dengan baik.

Namun ternyata, sistem ini tidak berjalan se-efektif yang kita bayangkan, bahkan seluruh pihak mengalami kesulitan, tidak hanya siswa, orang tua, guru, dan pemerintah ikut merasakannya. Pembelajaran online ini memberikan dampak yang sangat besar, baik dampak positif dan juga dampak negatifnya.

Seperti yang kita lihat, dari seluruh masyarakat tidak seluruhnya melek teknologi, baik guru, siswa, dan orang tua masih ada yang dalam tahap adaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini, apalagi masyarakat yang ada di desa atau pedalaman juga para masyarakat yang lahir di zaman tahun 1960-an tentu sangat susah untuk mempelajarinya lagi terutama guru, masih banyak guru-guru yang belum mahir dalam mengaplikasikan teknologi zaman ini.

Sama halnya dengan siswa/ mahasiswa, masih amatir dalam menggunakan teknologi, diakibatkan oleh kurangnya sarana teknologi pendukung pembelajaran di sekolah mereka, sehingga sistem daring ini kurang efektif bagi mereka, bukan menambah pengetahuan melainkan kurang memahami pembelajaran yang mereka terima. 

CARA KERJA COVID-19

Masa inkubasi Ini adalah saat virus memantapkan dirinya.Virus ini bekerja dengan masuk ke dalam sel-sel tubuh Anda dan kemudian membajaknya.Virus corona, yang secara resmi disebut Sars-CoV-2, dapat menyerang tubuh Anda ketika Anda menghirupnya (setelah seseorang batuk di dekat Anda) atau ketika Anda menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus dan kemudian mengusap wajah Anda.

Pertama, virus menginfeksi sel-sel yang melapisi tenggorokan, saluran udara, dan paru-paru Anda, lalu mengubahnya menjadi “pabrik virus corona” yang memuntahkan sejumlah besar virus baru dan terus menginfeksi lebih banyak sel.Pada tahap awal ini, Anda tidak akan sakit dan beberapa orang mungkin tidak pernah mengalami gejala.Masa inkubasia waktu antara infeksi dan gejala pertama muncul sangat bervariasi.

Tetapi rata-rata lima hari.Penyakit ringan Ini yang akan dialami kebanyakan orang,Covid-19 adalah infeksi ringan untuk delapan dari 10 orang yang terpapar. Gejala utamanya adalah demam dan batuk,Nyeri tubuh, sakit tenggorokan, dan sakit kepala semuanya mungkin terjadi, tetapi tidak selalu demam, dan umumnya merasa tak enak badan, adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda merespons infeksi.

Tubuh Anda telah mengenali virus itu sebagai penyerang yang tidak bersahabat dan memberi isyarat ke seluruh tubuh bahwa ada sesuatu yang salah dengan melepaskan bahan kimia yang disebut sitokin,Bahan kimia ini menggalang sistem kekebalan tubuh, tetapi juga menyebabkan tubuh nyeri, sakit, dan demam.

Batuk akibat virus corona, pada mulanya adalah batuk yang kering dan ini mungkin disebabkan oleh iritasi sel ketika sel itu terinfeksi oleh virus,Beberapa orang akhirnya akan mulai batuk berdahak – lendir tebal yang mengandung sel-sel paru-paru mati, yang terbunuh oleh virus.

Gejala-gejala ini diobati dengan beristirahat, mengonsumsi banyak cairan dan parasetamol. Anda tidak akan memerlukan perawatan di rumah sakit.Tahap ini berlangsung sekitar satu minggu – kebanyakan orang pulih pada titik ini karena sistem kekebalan tubuh telah memerangi virus.

Namun, beberapa akan menderita penyakit yang lebih serius,Ini adalah informasi terbaik yang kita pahami saat ini mengenai tahap ini,Namun ada penelitian yang menunjukkan penyakit ini dapat menyebabkan lebih banyak gejala, seperti pilek.

Penyakit parah Jika penyakit ini berkembang, itu terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap virus.Sinyal-sinyal kimiawi itu tersebar ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan peradangan. Tetapi keadaan ini perlu diseimbangkan.

ENERGI PEMUDA DALAM PANDEMI COVID-19 LUWU TIMUR

Untuk mendorong Energi pemuda, bahwa ada banyak Lembaga yang kemudian hadir di wilayah kabupaten luwu timur,termaksud Lembaga kepemudaan dan Lembaga kemahasiswaan yang,semestinya Lembaga tersebut berkolaborasi terkait pencegahan dan pengendalian Covid-19,Terkhusus Di wilayah kabupaten LUWU TIMUR.

Penulis beranggapan bahwa ditengah pandemic ini semestinya pemuda mengotorol disetiap tempat keramain yang berpotensi menularakan covid 19,bahwa disetiap tempat keramaian harus menggunakan protocol Kesehatan,sop,dll,bahkan saya melihat bahwa masih banyak tempat yang tidak menggunakan SOP seusai dengan tempatnya masing-masing.

Peran generasi muda ini sangat besar, diharapkan para generasi muda bisa berperan sebagai agent of change. Maka disinilah peran generasi muda, sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk bisa ikut membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19.

Salah satunya dengan tetap dirumah (stay at home), menjaga jarak dan fisik serta menggunakan masker dan sering cuci tangan dengan sabun atau bergabung sebagai relawan Covid-19 baik secara swadaya maupun bergabung dengan BNPB. Menjadi penggerak Social Distancing, Lakukan social distancing sebaik-baiknya.

Jaga jarak minimal 2 meter. Serangkaian tindakan social distancing diprediksi dapat mencegah orang sakit untuk melakukan kontak dengan orang lain, dan yang terpenting adalah mengurangi atau menekan penyebaran COVID-19. Bahkan, Presiden RI pun sudah menghimbau masyarakat untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah.

Kenyataannya, masih saja ada pihak-pihak yang ‘ngeyel’ dengan himbauan social distancing. Sebagian pihak menganggap bahwa kebijakan pemerintah untuk meliburkan sekolah di beberapa wilayah menjadi kesempatan emas untuk berlibur bersama keluarga. di sinilah peran pemuda untuk membantu orang-orang di sekitar kita meninggalkan ‘kekolotan’ mereka.

Revolusi mental itu penting. Sangking pentingnya, hal itu harus dimulai dari diri kita sendiri dan sebarkan kepada orang-orang terdekat kita. beri edukasi kepada keluarga, teman-teman terdekat kamu Sampaikan kepada mereka secara baik-baik bahwa Covid-19 ini bukan hal yang patut diremehkan.

Ingatlah bahwa dengan menerapkan dan selalu mengingatkan orang-orang terdekat akan pentingnya social distancing, kamu sedang melindungi mereka dan ikut andil dalam mencegah penyebaran virus ini.

Pemuda diharapkan untuk menjadi agent of change, yaitu pihak yang mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui efektifitas, perbaikan dan pengembangan.

Melalui teknologi, gencarkan, ajak dan galakan edukasi semasif mungkin. Himbau sesering mungkin tindakan-tindakan pencegahannya. Jelaskan dan ingatkan selalu pentingnya stay at home.  Jadilah relawan bagi sekitar yang membutuhkan dukungan makanan dan obat dengan tetap menjaga prinsip pembatasan sosial.

Minta bantuan keluarga, teman, dan tetangga untuk membantu atau gunakan layanan online, Hubungi RT/RW setempat. Penting untuk dapat menghubungi dan minta tolong orang lain untuk mengatur pengiriman makanan, obat dan kebutuhan lainnya, serta ikut memperhatikan kondisi fisik dan mental anda.

Cari dukungan dari teman, keluarga, dan jaringan sosial lainnya. Usahakan untuk tetap kontak dengan orang di sekitar anda melalui telepon dan platform media sosial.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) , jumlah pemuda Kabupaten LUWU TIMUR mencapai 23,062 juta jiwa. Dengan jumlah pemuda yang bgitu banyak, seharusnya kita memberikan kontribusi yang lebih dalam memerangi COVID-19.