Hidup dalam Pandemi Covid-19

waktu baca 5 menit
Senin, 29 Jun 2020 10:06 0 10 Tim Redaksi
 

Oleh: Suprianto
(Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar)

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Essay Lawan Covid-19, kerjasama Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Timur (PP IPMALUTIM) dengan The Sawerigading Institue (TSI) dan MaliliPos.com

Terlalu banyak bom atom di satu era. Itulah Pandemi corona virus disease 2019 atau covid 19 yang sedang meresahkan masyarakat Indonesia, termasuk luwu timur saat ini, dilansir dari dinas kominfo Luwu Timur, perkembangan covod 19 di kabupaten luwu timur per 16 juni 2020, dirawat(positif) sebanyak 211 dan sembuh sebanyak 207 orang, PDP 60 orang, ODP 410 orang, OTG 1133 orang.

Sahabat adakah diantara kita yag tak terpengaruh mewabahnya virus corona ini? Semua aspek berubah, semua alur kehidupan bergeser, bahkan terbalik sedemikian rupa.

Mari kita mengembara ke samudera rasa, menangkap cerita dari kisah yang tidak biasa. Virus corona telah memaksa kita menerima kenyataan kenyataan getir, sekaligus menampar kita dengan kesadaran baru terhadap hal hal yang terbolak balik dan tak masuk dalam akal kita sebelumnya.

Kita sedang berada di era yang serba tidak jelas, mewabahanya virus corona telah membuat kita serba gelagapan, pada saat ini menggiring kita mengubah cara hidup, cara kita berinteraksi sesame dan cara kita memahami keseimbangan alam.

Pada titik tertentu, wabah ini melahirkan satu normalitas baru yang berbeda dengan normalitas yang terjadi sebelumnya.

Kita semua menjadi aksi dari perubahan besar, pertama kalinya kita menyelenggarakan sekolah, dan ujian dirumah masing-masing, pertamakalinya lebaran melalui daring(online), dan pertamakalinya biaya kuliah hanya bagaikan sumbangan untuk kampus.

Pandemic ini belum diketahui kapan berakhirnya, bahkan obatnya pun juga belum ditemukan, protokol kesehatan pun selalu di ingatkan, tetapi prilaku masyarakat kita dalam menghadapi pandemi covid 19 ternyata sejurus dengan teori Maslow.

Mereka lebih mengedepankan “uman” supaya dapat makan daripada aman, iman, dan seterusnya. Demi makam, masyarakat tetap beraktivitas dan bekerja di kantor, pabrik, pasar, jalanan, dan sebagainya di tengah wabah corona, bahkan dengan pengabaian protokol kesehatan sehingga keamanan dan kesehatan mereka pun terancam.

Apalagi pekerja lepas atau pekerja harian, dimana kerja hari itu untuk makan hari itu juga, mereka tidak takut mati mereka hanya takut lapar dan mereka tidak mau mati karena kelaparan. Itulah naluri manusia.

Ketika bansos Rp 600.000 per keluarga yang dikatakan golongan menengah kebawah sudahn cair, mereka menyerbu pasar, lagi lagi dengan mengabaikan protokol kesehatan yaitu physical distancing yang mengancam kesehatan dan keselamatan mereka untuk membeli baju baru dan kebutuhan lebaran lainnya.

Semua itu, sekali lagi, mereka lakukan demi uman (pangan dan sandang).

Pemerintah menolak lockdown, karena dengan penguncian wilayah ini maka penduduk tak biasa bekerja mencari nafkah. Padahal, pemerintah tak bias menafkahi mereka, kalau lapar, masyarakat bias mengamuk lalu chaos.

Pemerintah lebih memilih pembatasan social yang memungkinkan masyarakat masih dapat bekerja.

Jumlah warga yang secara kongkret terkena kesulitan ekonomi jauh melampaui jumlah warga yang terpapar virus corona, kecemasan atau kesulitan ekonomi memang lebih massif, yang lebih dirasakan banyak orang juga kecemasan atas paparan virus corona melemah sementara virus ekonomi meningkat.

Secara bertahap dengan mematuhi protokol kesehatan, warga harus dibebaskan untuk bekerja. Ancaman kelaparan dan kesulitan ekonomi itu real dirasakan. Mereka yang lapa, yang dihalangi bekerja dan tidak pula menerima bantuan social memadai, mudah sekali berubah menjadi mereka yang marah.

Segmen yang lapar ini adalah rumput kering. Mereka mudah sekali dipantik untuk memulai kerusuhan social.

Mereka berani menuntut dibandingkan kehilangan pekerjaannya untuk mencari sesuap nasi, jika saja pembatasan social masih berlanjut, perencanaan penutupan pasar atau ladang rezeki bagi para pedagang, kerusuhan social pun bisa terjadi.

Apapun yang terjadi tidak ada yang dapat menghalangi untuk mencari rezeki, ancaman covid pun bagaikan semak belukar yang dapat dibabat oleh manusia.Saat ini, perang melawan corona antara ada dan tiada, masyarakat harus belajar hidup berdampingan dengan virus corona yang setiap saat masih mengancam, pembatasan social level RT/RW sudah tidak diberlakukan, sebagian warga masih ada yang mematuhi protokol kesehatan dan sebagiannya beranggapan virus corona sudah hilang.

Kalau dulu orang harus bersiap siap siap dan pandai pandai menyesuaikan diri dengan segala macam digitalisasi, sekarang harus siap hidup berdampingan dengan pandemi virus corona, berdampingan atau berdamai bukan dalam arti menyerah, melainkan mengontrol agar virus corona tidak menyengsarakan meskipun kenyataanya memang ada disekitar kita.

Kondisi ini tidak sama dengan sebelumnya, tiada hari tanpa kasus, perilaku yang berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat harus selalu diterapkan, adapun cara yang dilakukan ialah rutin mencuci tangan memakai sabun, memakai masker saat keluar rumah, menjaga jarak fisik dan jarak sosial(physical and social distancing) yang aman, yakni 1,5 hingga 2 meter dan menghindari kerumunan

Refleksi

Belum sekali pun kita menghadapi era di mana semua orang dibuat kebingungan dan panic, kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, keyakinan agama, budaya leluhur, ditantang untuk menjawab makhluk mikroskopik yang tak kasat mata namun mengancam: virus corona/ covid 19.

Tidak ada satupun presiden berhasil menaklukan corona di satu daerah, sejarah pandemi pun tak banyak membantu, ini sejarah yang luar biasa besar di era digital seperti ini, mungkin kelak, 5, 10 tahun kedepan kita akan mengenang masa ini dengan sangat dramatis, dan drama itu harus kita perkarya dengan segenap daya kita untuk mengabdikannya.

Masih tentang kedasyatan virus corona/ covid 19 ini, terjadi kegagapan dan kerisauan yang sangat dalam menyikapi pandemi ini, ia tak terlihat namun nyawa kita berada diujung tanduk menghadapinya. Kita bahkan curiga bukan hanya kepada orang orang yang lalu lalang, namun juga benda benda disekitar kita.

Tidak penting membahas corona itu senjata biologis atau virus murni, tidak perlu lagi menguncing. Corona adalah perang terbuka. Corona tak pilih kasih, dia dating dan pergi mebawa satu demi satu nyawa, karena memang telah dating batas waktunya. Bukan tidak mungkin, satu korban berikutnya adalah kita

Sahabatku jadikanlah corona ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan hati kita, bahwasannya kita bukan apa apa dan bukan siapa siapa.